|
LAZ DPU KALTIM, 29-09-2009 02:30:01 WITA
Saat si kecil terserang radang tenggorokan, infeksi telinga atau demam tinggi, biasanya pemberian antibiotika bisa jadi penyembuh yang cespleng. Akibatnya, seringkali dokter langsung memberikan obat sakti ini, tiap kali si kecil sakit. Namun, jangan sembarangan mengonsumsi antibiotika. Bila si kecil mendapat resep antibiotika, Anda bisa mengikuti anjuran Richard Besser, M.D., mantan direktur medis di program edukasi antibiotika, Centers for Disease Control and Prevention berikut ini. - Taati aturan pemakaian. Menghentikan pemakaian sebelum waktunya menaikkan risiko terjadinya resistensi. - Waspadai terjadinya efek samping. Diare, mual, atau gangguan perut bisa berlangsung selama beberapa hari. Munculnya rasa gatal atau ruam bisa menunjukkan adanya alergi. Bila terjadi, segera hubungi dokter. - Lupakan susu. Kebanyakan antibiotika bisa diminum dengan makanan atau minuman. Namun, susu bisa mengurangi penyerapan beberapa jenis obat. - Takar yang akurat. Gunakan alat takaran yang ada pada kemasan obat, bukan sendok teh. Untuk anak di bawah dua tahun, tanyakan dokter kemungkinan untuk mendapat pipet, yang membuat obat lebih mudah masuk ke dalam mulut. Kebanyakan ayah hanya mengajak si kecil ke dokter di saat darurat, atau ketika Anda, sang ibu, sedang berhalangan. Jarang sekali ada pria yang mau ikut menemani anaknya menjalani pemeriksaan rutin. Tidak percaya? Itu berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Evanston Northwestern Healthcare Research Institute. Hal ini amat disayangkan, sebab menurut banyak penelitian, keterlibatan ayah dalam segala aspek kehidupan anaknya akan mempengaruhi proses belajar, karakter, serta pertumbuhan buah hatinya tersebut. Untuk membujuk ayah agar mau menemani ke dokter, Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini: Jelaskan penyebabnya mengapa ayah harus ikut serta. Banyak ayah tidak mengerti bahwa kunjungan ke dokter ketika sedang sakit sama berharganya dengan ketika sedang dalam keadaan sehat. Dengan mengetahui persis setiap tahapan pertumbuhan anaknya, atau hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk si kecil di masa mendatang, sang ayah akan merasa memiliki hubungan yang lebih erat dengan anaknya. ”Para pria yang terlibat dalam penelitian kami menyatakan keperduliannya pada masalah kesehatan anak. Sayangnya, mereka merasa kurang percaya diri ketika berada di ruangan dokter anak,“ ujar penggagas penelitian, Craig Garfield, M.D. Ikut menemani suami ketika berkunjung ke dokter anak bisa membuatnya lebih percaya diri. Hanya saja, jangan menyela suami Anda setiap kali ia membuka mulut. Ajak ayah mengatur ulang jadwal kerjanya. Begitu Anda berhasil meyakinkan suami bahwa ia harus ikut menemani pergi ke dokter, ia akan lebih bersedia meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal atau masuk kantor agak siang. Jika memang jadwal kerja tidak bisa diajak kompromi, ia masih dapat ikut terlibat dengan cara menulis pertanyaan untuk dititipkan kepada Anda dalam kunjungan ke dokter. Cara lain, ia juga bisa mengirim pertanyaannya kepada dokter lewat e-mail. Suami pun bisa membantu Anda menelpon dokter untuk meminta jadwal konsultasi.(vvn) www.suaramedia.com
Share
Dikirim oleh : (dpukaltim)
|